blazeblast

Just another WordPress.com site

Sejarah Globalisasi

Globalisasi sebagai sebuah fenomena mulai menampakkan dirinya pada sekitar tahun delapanpuluhan abad ini. Dan pemunculan itu setidaknya sangat berkiatan eratdengan 3 peristiwa besar yang masing-masing mewakili ranah politik, teknologi danekonomi. Ketiga peristiwa itu adalah:

1.Ranah politik: berupa berakhirnya perang dingin antara Timur –yang dalamhal ini diwakili oleh Uni Soviet- dan Barat –yang dalam hal ini diwakili olehAmerika-. Tentu saja dengan “kekalahan” di pihak Uni Soviet yang belakangan harus rela membiarkan wilayahnya tercabik dan melepaskan dirisatu persatu.

2.Ranah teknologi: yang mewujud dalam revolusi informasi, dimana duniamenyaksikan ledakan yang luar biasa dalam bidang telekomunikasi dan arus perpindahan informasi yang tak terkendali dari satu tempat ke tempat yanglain.

3.Ranah ekonomi: berupa lahirnya Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) padatahun 1995 yang kemudian menjadi bibit persemaian awal ide pasar dan perdagangan bebas di antara semua negara.[2]Satu hal unik yang patut dicatat adalah bahwa globalisasi belum pernah terjadiatau ditemukan pada abad-abad sebelumnya, meskipun beberapa negara atau bangsamemiliki kekuasaan penuh (baca: menjajah) bangsa lainnya secara militer dan ekonomi.Meskipun Romawi pernah menguasai hampir semua wilayah Eropa misalnya, namunkekuasaan itu kemudian tidak melahirkan fenomena globalisasi ini.Demikian pula jika kita menariknya jauh ke belakang di saat bangsa Eropamenggalakkan ekspedisi pencarian wilayah baru di kawasan timur bumi, sejarah tidak  pernah mencatat adanya fenomena baru yang disebut globalisasi ini, meskipun sebagiannegara Eropa itu berhasil menanamkan kekuatan dan kekuasaannya di berbagai wilayahtimur dunia. Namun di zaman kiwari ini, di saat kita –setidaknya secara kasat mata- tidak lagi melihat bentuk-bentuk imperialisme klasik atas bangsa lain, gelombang globalisasidengan dukungan perkembangan telekomunikasi dan transportasi yang berkembangnyaris setiap detik, justru menjelma menjadi fenomena yang tak mungkin lagi terbendung. Kita nampaknya tidak mempunyai pilihan lain selain turut serta menjadi“pemain” dalam arusnya yang sangat kuat. Tinggal kemudian kita yang menentukan:apakah kita sekedar menjadi “pemain” yang pasrah mengikuti ke mana saja ia mengalir,atau justru menjadi “pemain” yang lihai memanfaatkan arusnya untuk mewujudkan cita-cita kita.

James Petras
“Globalisasi merupakan suatu fenomena yang keberadaanya tidak begitu saja ada. Ia ada setelah melalui proses yang kompleks. Ada tiga argumen dasar untuk menjelaskan globalisasi, yaitu tersebut adalah pertama, kemajuan teknologi ataurevolusi teknologi informasi, kedua, permintaan pasar dunia dan ketiga, logikakapitalisme atau logic of capalitalism.
Paul Hirst
dan
Grahame Thomson
melihat perkembangan globalisasi ini darisisi sejarah kegiatan perusahaan ke seluruh dunia. Mereka berdua mencatat pada abad ke-14 telah terjadi perdagangan di Eropa Barat dan daerah Levant. Pada abad ke-17 dan 18,dengan dukungan dari negara, berdiri perusahaan-perusahaan besar kolonial seperti
 Duth East India Company, British East India Company, Mocovy Company, Royal AfricaCompany dan Hudson Bay Company
.
James Petras
sendiri membagi sejarah globalisasi menjadi tiga fase. Fase pertama dimulai pada abad 15. Di sini globalisasi pada awalnya tidak dapat dilepaskandari imperalisme sebagai pilar utama dalam pengakumulasian modal kaum kapitalisEropa yang dicapai dengan menghisap dunia ketiga. Fase kedua dibangun pada era
inter imperial trade.
Dalam tahap ini globalisasi telah melibatkan kompetisi dan kolaborasi, perjuangan antara preusan multinacional di satu negara untuk merebut sebuah pasar dan juga kolaborasi antar mereka sendiri untuk mengeksploitasi pasar tersebut. Fase ketigamerupakan fase
internacional trade
. Perdagangan internacional atas komoditi dari jeringan global maupun regional telah memberikan karakter kelas dalam globalisasi. Padafase ketiga ini agen utamanya dalam MNCs /TNCs yang telah menggantikan peran perusahaan dagang dalam mengeksploitasi dan menghisap sumber tenaga verja murah didunia ketigaKetika bangsa-bangsa Barat (Eropa) menjelajah dunia Timur dan kemudianmenguasainya (menjajahnya hingga menimbulkan kesengsaraan, di abad ke-17 hingga ke-20) makaapa yang terjadi kemudian adalahBangsa-bangsa Timur mengenal (peradaban) bangsa Barat di samping sudah tentuadalah sebaliknya bangsa Baratmengenal bangsa Timur. Hampir bersamaan dengan itu bangsa-bangsa Barat juga”menemukan” dunia baru yang lainter¬masuk misalnya benua Amerika. Tetapi jauh sebelum itu para pedagangParsi (Iran sekarang) sudah menjalinkontak perdagangan dan juga informasi dan kebudayaan dengan bangsa di Cina;dan beberapa kota pantai yang berada diwilayah negara yang sekarang disebut Indonesia sudah menjadi pusat-pusat perdagangan termasuk misalnya Pasai, Delhi,Banten, Cirebon, dan Jepara. Jalinan hubungan perdagangan, kebudayaan, dansesekali juga politik antara masyarakatdan penguasa di berbagai wilayah Nusantara dengan India dan juga Cina sudah berlangsung jauh sebelum bangsa-bangsaBarat berlayar ke Timur.Ilustrasi singkat ini membuktikan bahwa jalinan serta kontak-kontak ekonomi- perdagangan, politik, dan budaya di antaraanak-turun Adam sebenarnya sudah berlangsung sangat lama yang kemudianmengalami perkembangan sangat kompleksdan per¬cepatan tinggi yang sekarang dikenal dengan globalisasi.Globalisasi dengan demikian sebenarnya bukan merupakan gejala yang sama sekali baru; dan berpikir untuk menutup dirisepenuhnya dari pengaruh luar lebihmerupakan ilusi. Politik isolasi yang ditempuh bangsa Jepang semasa rezimShogunat harus berakhir pada tahun 1853ketika Komodor Matthew C. Perry dengan dukungan beberapa armada mendaratdi Uraga (sebuah kawasan di Teluk  Tokyo) dan berhasil memaksakan politik pintu terbuka yang kemudian membawa perubahan-perubahan pada rezim.Reformasi harus dilakukan oleh bangsa Jepang terutama sejak 1856, atau yanglebih dikenal dengan Restorasi Meiji, yang berlangsung paling tidak hingga awal abad ke-20 (lihat misalnya Shozo, 1981:179-220).Sampai sebegitu jauh media massa nampaknya belum mengambil peran-peransecara signifikan sebagaimana waktusekarang. Alat cetak manual (hand press) sangat sederhana baru dirintis pertengahan kedua abad ke-15 oleh Guttenberg diJerman dan suratkabar di Amerika baru dirintis pada akhir abad ke-17 denganditerbitkannya Public Occurences (lihatFedler, 1978:1-39; DeFleur dan Denis,1985:33-75). Di Indonesia sejarahsuratkabar (masih dengan hand press sederhanadan milik Belanda) baru dimulai menjelang akhir abad ke-18 – lebih dari setengahabad setelah Belanda mulaimenancapkan kekuasaannya di Indonesia dengan diterbitkannya Bataviasch Nouvelle; dan rintisan awal surat¬kabar nasional (dimiliki oleh dan dengan menggunakan bahasa Indonesia) ditandaidengan terbitnya Medan Prijaji di Bandung ditahun 1904 (Pawito, 2002:76-77).Gejala globalisasi mengalami peningkatan akselerasi dan eskalasi dahsyatterutama setelah di akhir dekade 1980-an SovietRussia (USSR) hancur berkeping dan kemudian muncul negara-negara (atau bangsa-bangsa) yang merdeka yangkemudian diikuti oleh negara-negara di Eropa Timur serta robohnya Tembok Berlin yang kemudian menyatukan kembaliJerman (lihat, misalnya, Treadgold, 1995:431-440; Dawisha, 1988:102-214). Haldemikian rupanya sekaligus mengakhiriera perang dingin (cold war) antara Blok Barat yang merepresentasikan kekuatanliberalisme-kapitalisme dengan AS  berada di garis depan yang berhadapan dengan Blok Timur yangmerepresentasikan kekuatan totalitarianisme-komunismedengan Uni Soviet berada di garis depan. Hal ini rupa¬nya juga menandaikemenangan sistem demokrasi liberal yangkemudian oleh Fukuyama dikatakan sebagai “end point of mankind’s ideologicalevolution” dan “final form of humangovernment” (Fukuyama, 1992:xi).Penting untuk dikemukakan dalam kaitan ini bahwa media massa mengambil peran-peran yang sangat penting dalam proses-proses perubahan menuju demokrasi di kawasan tersebut (dan kawasanlain). Tiga pilar perubahan yang diusulkanoleh Michael Gorbachev glassnot (keterbukaan), perestroika (reformasi), dandemocratziya (demokratisasi) pada akhirnyaditerima oleh masyarakat/bangsa Russia, walau harus melewati masa transisi yangsulit dan berdarah-darah pada masa pemerintahan penerusnya Boris Yeltzyn. Hal demikian dapat terjadi terutamakarena didukung oleh kebebasan persdan/atau informasi. Gorbachev dalam kaitan ini menulis, antara lain, sebagai berikut.Perestroika confirmed once again that the normal, democratic development of society rules out universal secrecy as amethod of administration. Democratic development presupposes glasnost – that isopenness, freedom of information for allcitizens and freedom of expreession by them of their political, religious, and other views and convicstions, freedom of criticism in the fullest sense of the word (Gorbachev, 2000:61).Apa yang terjadi di Indonesia memang tidak sama persis dengan yang terjadi di Uni Soviet dan juga Eropa Timur akan tetapi ada kesamaan yang terkesan sangat menonjol.Kesamaan termaksud, antara lain, adalah kenyataan bahwa proses-proses demokratisasi (proses perubahan menujutatanan lebih demokratis) dimulai darisebagian kalangan elite dan kalangan muda, terutama para akademi, tokohmasyarakat dan mahasiswa, yang merasasemakin letih oleh kondisi-kondisi yang ada yakni tatanan yang semakinmengarah kepada otoritarian dan korup padamenjelang akhir periode Orde Baru. Mereka ini, sebagaimana sebagian elite partaiKomunis dan angkatan muda yangmenginginkan perubahan, sudah lama sebenarnya menyerap informasi mengenaidunia luar melalui media massa terutamasiaran televisi dan siaran radio luar negeri serta penerbitan-penerbitan dari luar negeri. Kalau sebagian elite partai komunisdan para pemuda di Soviet Russia merasa semakin letih oleh tatanan totalitariankomunis yang semakin korup dandiskriminatif maka sebagian elite dan pemuda di Indonesia semakin letih olehtatanan Orde Baru yang juga semakinotoritarian dan juga korup.Sebagian kalangan elite dan para pemuda-mahasiswa di Indonesia yangmengetahui perkembangan-perkembangan dunialuar, terutama melalui pemberitaan-pemberitaan media massa luar negeri, mulaidan semakin tertarik dengangagasan-gagasan perubahan (reformasi) terutama setelah pemilihan umum 1997yang kemudian ternyata tidak memperoleh legitimasi dari rakyat. Para elite dan mahasiswa ini mengetahui perubahan-perubahan dan dinamika politik yang terjadi di dunia luar negeri seperti Gerakan People Power di Phillipina 1986yang memaksa Presiden Marcos turundari jabatan, hancurnya Soviet Russia dan negara-negara komunis di Eropa Timur di penghujung dekade 1980-an, dan pembantaian terhadap para aktivis yang menuntut perubahan di lapanganTienanmen Cina 1989, dan aksi-aksi protesgerakan pro-demokrasi di Thailand terutama tahun 1992 (lihat, misalnya, Uhlin,1997:176-184; Pawito, 2002:45-46).

Globalisasi Pertama menurut Kennedy terjadi pada 18501914, dimulai dari penyebaran nilailiberal dalam perekonomian sebagaimana tecermin dalam Napoleonic Code, yang merupakansumber Kitab Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) kita. Penekanan dalam periode ini meliputisoal kebebasan dan kebendaan individu. Dari sudut hukum ekonomi internasional, periode inimenyaksikan munculnya konsep tentang perdagangan bebas dan gold standard. Pemikiranhukumnya banyak bersumber dari FK von Sa vigny dan berhasil masuk ke Inggris sertaAmerika dalam bentuk positivisme hukum (legal positivism).Indonesia sendiri mengalami Globalisasi Pertama dalam statusnya sebagai koloni HindiaBelanda. Sebagai koloni, pluralisme hukum terbentuk antara hukum Barat yang hidupberdampingan dan sistem hukum adat/lokal yang ada di Indonesia saat itu.Tahun 1900 adalah awal Globalisasi Kedua, yang juga dinamakan ”The Social”. Periode inibertahan 68 tahun. Penekanannya pada perombakan struktur/kelas sosial, keadilan sosial,nasionalisme, lokalisme, sosialisme/komunisme, dan jaringan sosial. Nilai individualismediganti dengan nilai kepentingan bersama. Hukum ditegakkan guna mencapai tujuan sosialtertentu. IMF, Bank Dunia muncul sebagai akibat Bretton Woods, lalu GATT menyusul, danekonomi pasar mulai ditinjau kembali. Periode ini ditandai dengan adanya semacamkebutuhan akan suatu tatanan internasional yang lebih berperan dalam perekonomian. Friksiantara kapitalisme dan komunisme juga terjadi dalam masa ini.Dalam sejarah republik kita, Globalisasi Kedua berlangsung paling lama: sejak kemerdekaansampai akhir Orde Baru. Ada nilainilai nasionalisme dan pluralisme hukum yang masuksebelum kemerdekaan. Sedangkan masa setelah Orde Baru ditandai dengan masuknya aliranhukum ”Law and Development” sesuai dengan anutan elite hukum di Indonesia. Pemerintahsaat itu pun melihat manfaat untuk mengkonsepsikan hukum dan pranata hukum, termasukcabang yudikatif, sebagai alat dan sarana tujuan tertentu, yaitu ”pembangunan”.Namun, pada saat yang sama sebenarnya sudah terjadi sejak 1945 mulai berkembang nilai-nilai lain yang menjadi dasar dari pemikiran hukum kontemporer (Globalisasi Ketiga) sebagaihasil sintesis Classical Legal Thought dengan The Social. Dalam periode ini, kebijakan danneoformalisme menjadi lebih penting. Nilai yang mengalami globalisasi adalah hak asasimanusia, nondiskriminasi, rule of law, federalisme, otonomi daerah, konstitusionalisme,termasuk peraturan prudensial, Basel II, good corporate governance, serta konsep barutentang regulasi pasar (the pragmatically regulated market). Globalisasi ini juga menghasilkanthe European Commission, NAFTA, dan WTO.
1.SEJARAH GLOBALISASI
oBanyak sejarawan yang menyebut globalisasi sebagai fenomena di abadke-20 ini yang dihubungkan dengan bangkitnya ekonomi internasional.
oPadahal interaksi dan globalisasi dalam hubungan antarbangsa di duniatelah ada sejak berabad-abad yang lalu. Bila ditelusuri, benih-benihglobalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai mengenal perdaganganantarnegeri sekitar tahun 1000 dan 1500 M.
oSaat itu, para pedagang dari Cina dan India mulai menelusuri negeri lain baik melalui jalan darat (seperti misalnya jalur sutera ) maupun jalan lautuntuk berdagang.
oFase selanjutnya ditandai dengan dominasi perdagangan kaum muslim diAsia dan Afrika .
oKaum muslim membentuk jaringan perdagangan yang antara lain meliputiJepang , Cina , Vietnam , Indonesia , Malaka , India , Persia , pantaiAfrika Timur , Laut Tengah , Venesia , dan Genoa .
oDi samping membentuk jaringan dagang, kaum pedagang muslim jugamenyebarkan nilai-nilai agamanya , nama-nama, abjad, arsitek, nilai sosialdan budaya Arab ke warga dunia.
oFase selanjutnya ditandai dengan eksplorasi dunia secara besar-besaranoleh bangsa Eropa . Spanyol , Portugis , Inggris , dan Belanda adalah pelopor-pelopor eksplorasi ini.
oHal ini didukung pula dengan terjadinya revolusi industri yangmeningkatkan keterkaitan antarbangsa dunia. berbagai teknologi mulaiditemukan dan menjadi dasar perkembangan teknologi saat ini, sepertikomputer dan internet .
oPada saat itu, berkembang pula kolonialisasi di dunia yang membawa pengaruh besar terhadap difusi kebudayaan di dunia.
oSemakin berkembangnya industri dan kebutuhan akan bahan baku serta pasar juga memunculkan berbagai perusahaan multinasional di dunia.
oDi Indonesia misalnya, sejak politik pintu terbuka, perusahaan-perusahaanEropa membuka berbagai cabangnya di Indonesia.Freeport dan Exxondari Amerika Serikat , Unilever dari Belanda , British Petroleum dariInggris adalah beberapa contohnya. Perusahaan multinasional seperti initetap menjadi ikon globalisasi hingga saat ini.
oFase selanjutnya terus berjalan dan mendapat momentumnya ketika perang dingin berakhir dan komunisme di dunia runtuh.
oRuntuhnya komunisme seakan memberi pembenaran bahwa kapitalismeadalah jalan terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dunia.
oImplikasinya, negara negara di dunia mulai menyediakan diri sebagai pasar yang bebas. Hal ini didukung pula dengan perkembangan teknologikomunikasi dan transportasi . Alhasil, sekat-sekat antarnegara pun mulaikabur.
globalisasi, yakni pertumbuhan ekonomi antarnegara yang saling bergantung satu samalain di dunia yang luas ini yang meliputi peningkatan jumlah dan jenis transaksi lintas batas baik dalam benda dan jasa, pergerakan modal internasional yang bebas, dansemakin cepat daan luasnya perkembangan teknologi.modernisasi adalah proses pembangunan kesempatan yang diberikan oleh perubahandemi kemajuan. Widjojo Nitisastro juga mendefinisikan bahwa modernisasi mencangkupsuatu transformasi total dari kehidupan bersama yang tradisional atau pramodern dalamarti teknologi serta organisasi sosial ke arah pola-pola ekonomis dan politis.GLOBALISASI ATAU MODERNISASITidak dapat dimungkiri bahwa globalisasi mengikutsertakan modernisasi. Hal itu terjadilantaran “hukum alam” yang bekerja secara alamiah, Kita harus mengakui bahwamodernisasi dilandasi oleh rasionalisasi. Sejalan dengan itu, kemajuan sebuah bangsa juga berbanding lurus dengan menguatnya rasionalisasi. Dengan demikian modernisasimerupakan kecenderungan yang tak terelakan sebagaimana globalisasi.Terkait denganitu, pada dasarnya modernisasi merupakan produk pergulatan masyarakat Barat dengan problem yang mereka hadapi, sehingga suka atau tidak, modernisasi merepresentasikannilai-nilai budaya Barat. Hal ini bisa dilihat dari sistem politik modern yang lebihmencerminkan budaya Barat, yakni supremasi kebebasan dan otonomi individu.Begitupula sistem ekonominya. Jadi globalisasi, sedikit banyak, sebenarnya mengandungmuatan westernisasi. Kekuatan globalisasi dalam konteks politik, misalnya, kita rasakandengan menguatnya tuntutan partisipasi rakyat dalam negara. Demokrasi menjadi ucapansakti yang senantiasa dimantrakan ketika berbicara tentang negara dan masyarakat.Ekonomi liberal juga menjadi rumus kunci dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomimasyarakat modern.Pada beberapa kalangan tertentu, globalisasi dan modernisasidianggap adalah sebuah imperialism baru, penjajahan baru. Imperialisme adalah pemaksaan dominasi politik, militer, budaya, dan ekonomi atas suatu negara untuk dieksploitasi. Imperialisme atau penjajahan (isti’mariyah) merupakan metode baku dari ideologi kapitalisme dalam menyebarkan pengaruhnya.Kendati merupakan metode baku, tapi manifetasi imperialisme muncul dalam beragam bentuk, bisa berupa dominasi militer, politik, ekonomi, budaya maupun bentuk yang lain.Kolonialisme atau penguasan wilayah oleh negara-negara Barat atas Dunia Islam padaabad 19 dan Abad 20 jelas merupakan bentuk imperialisme paling telanjang, yakniimperialisme militer berupa pendudukan yang disertai penghisapan kekayaan alam negerimuslim terjajah.Pasca Perang Dunia Kedua (1945), imperialisme fisik (militer) berakhir.Dunia berharap bahwa setelah itu imperialisme tidak akan ada lagi. Tapi dunia haruskecewa karena ternyata imperialisme jalan terus. Ia hanya berubah wajah. Melaluidominasi politik-ekonomi dengan jargon modernisasi, imperialisme terus berlangsungkhususnya terhadap negeri-negeri muslim yang baru merdeka dari penjajahan Barat.Modernisasi yang lebih dikenal dengan istilah pembangunan (development) ini, pada praktiknya hanya merupakan usaha negara-negara Barat untuk terusmengukuhkan dominasinya atas negara-negara bekas jajahan pasca Perang Dunia IIitu.Dunia melihat, pada tahun 1980-an, hampir setengah abad berlalu semenjak kemerdekaan dan proses modernisasi dilakukan yang diharap bisa menjadi pintukemajuan bagi negara Dunia Ketiga, terbukti upaya itu tidak membuahkan hasil. Yangada adalah kenyataan bahwa Dunia Ketiga tetaplah menjadi negara miskin, terbelakangdan terpinggirkan serta sekaligus tetap menjadi obyek eksploitasi negara maju. Padatahun itu, negara-negara industri yang jumlah penduduknya hanya 26 % dari penduduk dunia ternyata menguasai lebih dari 78 % produksi, menguasai 81 % perdagangan dunia,70 % pupuk, dan 87 % persenjataan dunia. Sementara 74 % penduduk di Asia, Afrika,dan AmerikaKolonialisme atau penguasan wilayah oleh negara-negara Barat atas Dunia Islam padaabad 19 dan Abad 20 jelas merupakan bentuk imperialisme paling telanjang, yakniimperialisme militer berupa pendudukan yang disertai penghisapan kekayaan alam negerimuslim terjajah.Pasca Perang Dunia Kedua (1945), imperialisme fisik (militer) berakhir.Dunia berharap bahwa setelah itu imperialisme tidak akan ada lagi. Tapi dunia haruskecewa karena ternyata imperialisme jalan terus. Ia hanya berubah wajah. Melaluidominasi politik-ekonomi dengan jargon modernisasi, imperialisme terus berlangsungkhususnya terhadap negeri-negeri muslim yang baru merdeka dari penjajahan Barat.Modernisasi yang lebih dikenal dengan istilah pembangunan (development) ini, pada praktiknya hanya merupakan usaha negara-negara Barat untuk terusmengukuhkan dominasinya atas negara-negara bekas jajahan pasca Perang Dunia IIitu.Dunia melihat, pada tahun 1980-an, hampir setengah abad berlalu semenjak kemerdekaan dan proses modernisasi dilakukan yang diharap bisa menjadi pintukemajuan bagi negara Dunia Ketiga, terbukti upaya itu tidak membuahkan hasil. Yangada adalah kenyataan bahwa Dunia Ketiga tetaplah menjadi negara miskin, terbelakangdan terpinggirkan serta sekaligus tetap menjadi obyek eksploitasi negara maju. Padatahun itu, negara-negara industri yang jumlah penduduknya hanya 26 % dari penduduk dunia ternyata menguasai lebih dari 78 % produksi, menguasai 81 % perdagangan dunia,70 % pupuk, dan 87 % persenjataan dunia. Sementara 74 % penduduk di Asia, Afrika,dan AmerikaDari data yang kami dapat, kami hanya bisa menyimpulkan bahwa modernisasi munculdisaat manusia atau masyarakat dunia sudah dapat berpikir secara ilmiah tentang apasebenarnya yang menjadi tuntutan dan kebutuhan mereka dalam hidup yang kemudianmemaksa mereka untuk membuat beberapa teknologi untuk memudahkan proseskehidupan mereka. Teknologi yang dibuat ini pun bersifat efektif dan efisien, membuatapa yang sebelumnya mereka yakini adalah sesuatu yang tidak mungkin menjadimungkin. Saat inilah juga dikenal dengan saat rasio berkuasa, pikiran mengalahkansegalanya, bahkan kepercayaan yang sifatnya religi.Sejak revolusi industry kala mesinuap pertama kali ditemukan di Inggris, kehidupan masyarakat dunia seakan mengalami perubahan yang pesat. Keringat manusia yang tadinya sangat mendominasi dalam duniakerja mulai tergantikan dengan mesin-mesin yang bekerja menurut fungsinya masing-masing. Dari segi keefektifan, sudah jelas sangat efektif, tanpa harus membayar buruhyang mahal dan banyak, hanya dengan sebuah mesin kerja jadi beres.Berjalan seiringdengan perkembangan waktu dan hakikat manusia yang adalah makhluk social yangselalu saja membutuhkan makhluk lain, muncul kemudian kebutuhan-kebutuhan laindalam hidup manusia yang seakan menjadi pekerjaan rumah bagi pikiran-pikiran ilmiahguna menciptakan teknologi baru yang tentu saja berguna untuk memudahkan,mengefektifkan, dan mengefisiensikan segala pekerjaan.Kebutuhan yang paling pentingdan mendesak kemudian adalah kebutuhan akan berhubungan dengan makhluk lain,kebutuhan informasi. Jarak yang terpisah jauh dengan lingkungan yang belum terjamah secara maksimal dari segi transportasimungkin adalah hal yang sangat menghalangi terjalinnya proses interaksi atarumatmanusia.Dari tuntutan kehidupan ini, pikiran-pikiran ilmiah tadi kemudian mulai bekerjalagi. Memikirkan teknologi seperti apa yang dapat menjadi jawaban terbaik akan masalahini. Masalah yang kemudian tanpa disadari adalah awal dari globalisasi, suatu proses penduniaan segala sesuatu yang tak dapat kita tahan, suatu proses dunia yang seakantanpa dinding.Ditemukanlah kemudian telegram, sebuah alat komunikasi lintas wilayahdengan media elektronik yang sangat rumit proses interaksinya. Sangat rumit tentu jikadibandingkan dengan kehidupan sekarang ini. Dimana dengan menekan beberapa tombolsaja dikeypad handphone, kita dapat berhubungan secara langsung dengan teman kita yang ada di Amerika, seakanmereka ada didepan kita.Selalu adanya pembaharuan disegala bidang yang sifatnyailmiah adalah salah satu cirri dari modernisasi yang telah kami jabarkan di beberapa penjelasan sebelumnya. Pembaruan pun terjadi di bidang telekomunikasi. Setelahditemukannya telegram yang merupakan alat komunikasi pertama lintas wilayah yang berbasis elektronik, kemudian ditemukan atau diikuti dengan beberapa penemuan lain di bidang informasi dan telekomunikasi. Menyusul kemudian radio, televisi, telepon,telepon genggam, sampai ke media yang paling dekat dengan kita sekarang, mediainternet. Media yang seakan menjawab tantanganglobalisasi dan modernisasi kekinian. Media yang betul-betul membuat setiap hal seakantanpa batas, tanpa dinding.Munculnya banyak teknologi yang memiliki tujuan utamauntuk memudahkan hidup manusia dalam menjalani prosesnya dan merupakan produk utama dari modernisasi kemudian menjadi sarana utama yang kelompok kami sebutseperti jalan tol untuk globalisasi. Globalisasi hanyalah suatu proses social dimana setiaphal seakan menjadi milik bersama yang bersifat internasional yang kemudianmewujudkan sebuah komunitas global atau masyarakat global yang kita kenal belakangandengan istilahglobal village.Komunitas global seperti ini tentu tidak akan terwujud jika tidak didukung oleh saranadan prasarana yang memadai dalam hal ini teknologi.Teknologi yang dimaksud ini adalahsebuah produk dari modernisasi. Produk yang sama sekali tak memiliki pengaruhnegative untuk proses kehidupan kedepannya. Modernisasi kemudian menjadi jalan tolyang menopang masuk dan merebaknya globalisasi di dunia.Seperti halnya sebuahrencana dan niatan yang baik pada setiap awal langkah, tentu ketika pertama kalidiciptakannya teknologi, ketika pertama kali kita masyarakat internasional melek dansadar akan pentingnya teknologi, tentu tidak ada yang salah akan semua ini. Bahkan yangada hanyalah sebuah harapan yang sangat besar akan manfaat yang dibawa oleh hasilciptaan manusia ini. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ketamakan ternyata tak  pernah lepas dari hati masyarakat internasional. Kasus yang kemudian muncul adalahkasus pemanfaatan di segala bidang, juga pemanfaatan teknologi yang merupakan karya luhur dan suci dari modernisasi.Teknologi yang tadinya diciptakan untuk mempermudah kerja

masyarakat dunia pada umumnya dan masyarakat yang membutuhkan pada khususnya berubah menjadi sebuah sarana yang sarat akan kepentingan berbagai pihak. Teknologiini kemudian dijadikan sebagi sebuah media untuk penyebaran hegemoni. Globalisasidan hegemoni kembali adalah sebuah hal yang tak bisa dipisahkan menurut Gramsci.Yang menjadi persoalan disini, unsure yang menjadi poin hegemoni kemudian adalahkepentingan-kepentingan orang barat. Kepentingan yang jika tidak kita saring dengan baik, maka tentu akan merusak kebudayaan local kita, mengikis kearifan local kitamasyarakat Indonesia pada khususnya dan masyarakat timur dunia pada khususnya.Kitaseakan diperbudak dengan fenomena global yang mengatakan bahwa kebudayaan baratadalah yang terbaik dan patut dijadikan teladan bagi masyarakat lain dengan kebudayaanyang masih terbelakang diseluruh penjuru dunia ini. Hal ini kemudian menjadi agendaillegal dari sebuah modernisasi, sebuah agenda yang jelas sudah tidak betul lagi jalannya.Modernisasi yang membelok maksud dan tujuannya dari tujuan luhur sejak  pertama diprakarsai kemudian kita kenal dengan istilahWesternisasiatau ke- barat-barat-an.Westernisasitentu menyelamatkan batasan modernisasi untuk tetap di jalur yang baik. Jalur yangsebatas kemjuan teknologi yang kemudian menyebabkan perubahan bagi kehidupanmanusia internasional ke jalan yanglebih baik karena desakan kehidupan yang lebih efektif dan efisien dan didukung olehkesadaran untuk pemikiran ilmiahnya.Ketimpangan akan modernisasi kemudian kitakenal dengan istilahWesternisasi. Sebuah paham budaya yang membawa budaya barat ke daerah timur dengan prosesglobalisasi dan jika tidak diserap dengan baik tentu akan menjadi senjata yang sangat berbahaya bagi eksistensi kebudayaan local dan kekayaan bangsa.
PENUTUP
Globalisasi adalah sebuah fenomena social dari masyarakat internasional yang bertujuanuntuk menghasilkan terwujudnya sebuah dunia yang tanpa batas. Globalisasi adalahsebuah proses yang sarat akan kepentingan berbagai pihak yang bermain di dalamnya.Target utamanya adalah untuk membuat sebuah komunitas global yang memilikihomogenitas yang kemudian dapat dengan mudah digerakkan atau dikontrol.Modernisas iadalah sebuah proses kehidupan social yang muncul ditandai dengan adanya perubahantata kehidupan manusia yang berjalan seiringan dengan tuntuan hidupnya. Modernisasikerapkali disandingkan dengan kemajuan teknologi di berbagai bidang. Teknologi iniadalah sebuah produk dari modernisasi yang kemudian muncul akan kebutuhan hidupmanusia untuk memanfaatkan setiap kesempatan dengan esensi efisiennya danmemproduksi setiap hal yang terbaik dnegan esensi efektifnya. Teknologi ini adalah hasilnyata dari proses berpikir ilmiah masyarakat yang merupakan cirri utama dari suatu eramodernisasi.Globalisasi dan Modernisasi pada awal pembentukannya adalah sebuahniatan yang sangat baik, guna menciptakan kemerataan dan kedailan yang baik disegala bidang pada masyarakat dunia. Seiring dengan berjalan dan berkembanganya umatmanusia di dunia, kedua hal ini pun berkembang menjadi sesuatu yang kemudian sartakan kepentingan berbagai pihak. Kepentingan berbagai pihak ini yang kemudiandiyakini sebagai hal yang merusak esensi luhur dari globalisasi dan modernisasi.Sampai pada suatu titik dimana sekat antara modernisasi dan globalisasi seakan kabur. Selama pembahasan kami diatas, dapat kami simpulkan bahwa Globalisasi dan Modernisasi bukanlah suatu hal yang dapat diperbandingkan sehingga kemudian bermuara padakesepakatan sama atau tidak sama.Globalisasi dan Modernisasi adalah suatu hal yangsaling mendukung satu sama lain. Modernisasi adalah sebuah sarana singkat yangkemudian menjadi seakan jalan tol bagi globalisasi.Modernisasi adalah jalan tol bagiGlobalisasi, itu simpulan menurut kami.
 Sumber:http://www.scribd.com/doc/45320329/SEJARAH-GLOBALISASI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 182 other followers

%d bloggers like this: